Abu....Indahnya mengenang dirimu dengan cinta....



Tahun 2008, 2 (dua) hari menjelang puasa pertemuan pertama kita, bertemu dengan pria renta yang bersahaja meninggalkan kenangan yang tak lekang hingga kini, bicara dan bercerita seperlunya, lebih banyak diam dan berzikir, entah kenapa....hati ini kuat meyakini lebih terpesona padamu daripada kepada putramu yang kini telah menjadi suamiku.

Alhamdulilah, semua dimudahkan oleh Allah, pernikahan sederhana telah terlaksana, tanpa kehadiran pria bersahaja tak apalah, yang penting restunya telah terwakili oleh wali dari bandung Bp Hasan dan disaksikan oleh Bp. Nasir Djamil yang saat itu bersedia menyisihkan waktunya dikala kesibukaannya sebagai Anggota MPR (terima kasiiiih ya pak do’anya). Dan kini disini aku bagian dari keluargamu.

Aku...melulu mencarimu ketika pulang ke kampungmu, senang tak terhingga mendapatkan lawan bicara sepadan ketika aku masih minus kosakata Aceh, menghapus kesepian karena tak adanya lawan bicara. Engkau dengan tutur lembutmu bersedia duduk lebih lama didapur -setelah makan atau menunggu masaknya hidangan- dan menceritakan apa saja saat aku bertanya ini itu tentang negerimu, engkau akan menerawang menggali ingatan sepuhmu sambil menyeruput kopi buatanku yang mungkin jauh standar dari harapanmu -tapi itupun kau abaikan- dan menghisap rokok kretek, menceritakan semuanya termasuk perjalanan hidupmu, bagaimana perjuanganmu membuka perkampungan baru, mejadi geuchik selama belasan tahun sehingga orang lupa nama aslimu karena mereka lebih akrab memanggilmu pak geuchik, perjuanganmu terlibat dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia di bumi Aceh ini, dan perjuanganmu untuk membangun jembatan gantung penghubung peradaban bagi generasi setelahmu, dan cerita-cerita lainnya, rindunya aku mendengar lagi ceritamu tanpa menginginkan adanya jeda

Pria seusiamu seharusnya duduk dirumah melulu ibadah, namun tidak untukmu, jika saatnya kesawah, ringan langkah kakimu menjejakkan kaki kesawah, begitupun jika harus kekebun, riang kulihat dirimu melangkah ke kebun, padahal...subhanallah jarak antara rumah dan kebun tidaklah  dekat, aku pun sering mengeluh jika harus melangkah kesana, dan itu kau lakukan dengan bahagia Kau lakukan itu tanpa pernah mengabaikan tanggungjawabmu sebagai hamba, khusuk dirimu menghadap Allah disela-sela kesibukan, menjadi siluet indah bagiku ditengah-tengah hamparan luas sawah atau kebun melihat dirimu menghamparkan sajadah, duhaiii laki-laki bersahaja...inginnya aku mengenalmu lebih lama.

Yang kuingat, saat itu bulan april menghitung hari melahirkan anak pertama kami dan cucu pertamamu dari kami -Khaira Nashywa-  telpon tak biasa dari cucumu disore hari mengagetkan kami, “cek ki....abu ka geuwoe, hana le ka geutinggai tanyoe”, tanpa jawaban balasan dari kami,  kami mencoba rasional dan cross check kabar tersebut ke kerabat yang lain,  penyangkalan yang sia-sia akhirnya....Tuhan, begitu merindunyakah engkau pada pria bersahaja kami, tak bisakah engkau menundanya sampai ia mengenal cucu yang kukandung ini. 

Abu..aku memanggilnya, terdengar  aneh diawal, tapi sekarang aku merindunya. Abu chik cucu-cucumu memanggil manja semasa kau hidup, ketika mereka menyetor hafalan qura-an atau  meminta sesuatu, engkau akan selalu hidup dalam diri kami, dalam cerita-cerita kami, kecintaanmu terhadap Islam dan teladan yang kau tunjukkan akan kami teruskan kepada cucu-cucumu (kswa dan qimi, dst).

Abu...Aku tahu pasti, aku mengenalmu karena Allah menghendakinya, namun aku juga tahu pasti, bahwa aku mencintaimu karena diriku menghendakinya, Do’aku semoga tempat terbaik menjadi tempat berpulangmu dan dengan ridha Allah semoga kita akan dipertemukan kembali didalam jannah-Nya. Pria bersahajaku berpulang setelah menunaikan tanggungjawabnya sebagai khalifah yang penuh cinta, yang cintanya tetap terasa hangat hingga hari ini.

2 Responses to "Abu....Indahnya mengenang dirimu dengan cinta...."

Lintas Sumatera said...
This comment has been removed by the author.
Lintas Sumatera said...

Yang baik tidak akan pernah berubah..