Rumahku....

duh gusti...sabar....sabar... (Cuma bisa ngelus dada sambil istigfar), sungguh terlalu memang nyonya satu ini, kalau dilihat dari segi umur (wes tuwek) enggak sepantasnya beliau (males ah pake beliau) melakukan wan prestasi, dan lucu bin anehnyanya... bisa-bisanya kami dikerjain sama sinyonya, terlunta (jiah ...:D)selama berbulan-bulan dan akhirnya malah endingnya gak happy...,

kok bisa sih?, emang gimana sih ceritanya? Ceritain dong, ceritain?

Ok...ok...sabar ya sabar (atur nafas dulu)

Jadi....beginilah awal ceritanya....

Kami merupakan kontraktor aktif (kontrak rumah sana sini :D), ketika 4 bulan menjelang kontrakan rumah terakhir habis, kami dengar ada rumah yang dijual (rencana kami memang ingin memiliki rumah dalam dua tahun ini), kamipun melakukan konfirmasi, cek kondisi rumah, dan mengumpulkan informasi mengenai rumah, dan setelah itu ikhtiar.

Untuk menghubungi pemilik, kami melalui perantara (nek as), berhubung si pemilik asli ada diluar kota maka kami berfikir ulang, tapi berdasarkan informasi valid dari sumber terpercaya ternyata anak sipemilik rumah tinggal disekitaran komplek , maka kami hubungi si anak untuk bertemu melakukan penjajakan harga, setelah nego harga beberapa saat, akhirnya si anak pun ok (dengan catatan dia pulang dulu kampung untuk bertemu dan konfirmasi dengan sinyonya)....setelah ditunggu beberapa hari si anak sms ayah dan bilang “ok....mamanya setuju”, untuk meyakinkan diri, kami coba bicara dengan sinyonya tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, keanehan mulai terjadi, sinyonya bilang dengan harga segitu dia ogah, nah loh...nah lo...piye iki...anak karo mamake kok rak beres. Mengetahui kondisi yang tidak sedap untuk kami, Maka kami pun mundur.....mungkin belom berjodoh.

Bulan berjalan, dan satu bulan menjelang kepindahan (kebetulan dapet kontrakan sebelah rumah nyonya yang dijual) sinyonya datang ke komplek untuk menemui kami (catet ya....dia yang mau betemu dengan kami). Tengah sibuk-sibunya kami pindah rumah, kami sempatkan diri untuk bertemu dengan nyonya, Dalam pertemuan yang mesra nan romantis tsb (huekkkks) si nyonya berkeluh kesah menceritakan derita hidupnya, menceritakan rumah yang konon katanya merupakan harta satu-satunya yang dia miliki dan menceritakan bagaimana dia berjuang untuk tetap hidup sampai hari ini, dengan sabar kami mendengarkan keluh kesah si nyonya, simpati dan empati kami tunjukkan, dengan sesekali diselingi nego-nego harga. Walaupun kami bersimpati dan berempati, tapi untuk harga kami tetap pada pendirian. Harga sekian, pengurusan surat bagi dua.

Setelah sinyonya pulang kami (ayah dan nda) pun rembukan beberapa hari, keputusan kami... ok kami bantu nyonya dengan kepengurusan surat kami ambil alih seluruhnya, kami kabarkan ini melalui perantara untuk diteruskan pada si nyonya, dan si perantara menginformasikan, si nyonya sudah ok dan meminta kami untuk melakukan pertemuan berikutnya dengan nyonya dirumah kakaknya. Meleset satu hari dari tanggal yang dijanjikan terjadilah pertemuan, kami (ayah, nda) dengan saksi nek as dan ana, nyonya dengan saksi kakak, dan iparnya tujuan dari pertemuan ini adalah untuk melihat keabsahan surat, menentukan tanggal dan tempat transaksi. Namun setelah dicek keabsahan surat, ternyata bablas....masalah kabeh, maka strategipun berubah, strategi alternatifnya yaitu mengurus surat-surat agar tidak lagi bermasalah ketika nanti menjadi milik kami lalu melakukan transaksi pembayaran.

Proses berjalan, akhirnya titik terang mulai terlihat dengan keep in touch tetap dilakukan, pada hari H ayahpun nelp sinyonya untuk bersama-sama mengurus surat-surat, tapi ternyata eh ternyata.....si nyonya mbalelo.....dia bilang.....kalau dengan harga segitu dia tidak mau...dia minta penambahan harga dari kesepakatan awal. Dan of course dengan tegas si ayah bilang ” tidak......, ibu sudah terikat janji dengan kami, dan kalau ternyata ibu berubah lagi, anggap saja tidak jadi... rumah itu mungkin bukan jodoh kami”, dan klik telpon ditutup ayah....lucunya, perasaan sedih cepat sekali berlalu berganti dengan perasaan lega, mungkin lega karena terlepas dari urusan yang tidak berujung pangkal.

Yang kami tahu pasti, kami hanya tau yang kami mau, tapi Allah lebih tau yang kita butuh, Dia tau dan mau yang terbaik untuk kami. Rencana hidup kami pasti akan berubah akibat kejadian ini dan kami fleksibel menjalaninya, sekarang fokus kami tertuju ke arah lain, kearah sana yang sudah jelas merupakan hak kami, hai....hai....yang disana...do’akan kami ya secepatnya bisa beribadah dan bekerja diatas tanahmu.

Dan...untukmu Nyonya, semoga dagangan nyonya cepat terjual seperti harapan....seandainya akhirnya nanti daganganmu berjodoh dengan kami, kami tidak akan lupa kerasnya nyonya mendagangkannya. Pertanyaan kami, akankah semua usaha yang nyonya lakukan akan mempunyai nilai bahagia?ataukah malah menjadi beban?.

0 Response to "Rumahku...."