Ngawas ujian spmb beberapa hari yang lalu
(19/6/2012) mengingatkan saya pada kejadian berbelas tahun yang lalu, sewaktu
saya berjibaku menantang diri saya untuk menembus perguruan tinggi negeri, dan
itu benar-benar perjuangan,dimulai dari ikut bimbel, berebut naik kereta menuju
bimbel disela-sela waktu kerja part time di perusahaan retail terbesar di
indonesia saat ini, hingga belajar mengatur strategi menghadapi ujian serta
trik-trik menjawab soal.
Perjuangan dihari H lebih melelahkan, berangkat
pagi-pagi buta setelah sholat subuh, dikawani mama tercinta yang ternyata sudah
bangun lebih pagi demi menyediakan sarapan kemudian mengantar daku sampai depan
rumah, dan berbisik bilang “semoga lulus ya nduk, hati-hati dijalan....mama
cuma bisa do’ain” ( mewek dah saya jadi terharu....plus jadi penambah semangat
dink...) dan semuanya itu rela saya lakukan demi biaya kuliah yang murah
meriah. Dan alhamdulilahnya saya lulus...:D
Berbanding terbalik memang jika melihat perjuangan
anak-anak hari ini untuk masuk perguruan tinggi negeri, jauh dari serius dan
sungguh-sungguh (sebagian kecil mungkin ada yang serius), sudah tahu dalam
ujian spmb mereka saling bersaing 1 berbanding jumlah tertentu, masih saja
sempat sempatnya celingak-celinguk cari jawaban or kasih jawaban, belum lagi
mereka yang hadir namun minim perlengkapan alat tulis (gak ada pinsil, pulpen
plus alat-alat tulis lainnya), geli saya melihatnya, bagaimana mau lulus kalau
begini gayanya(tepok jidat dah....)

0 Response to "SPMB 2012"
Post a Comment